Beranda > Belajar Dari Alam > Ulat Lebih Mulia Daripada Koruptor

Ulat Lebih Mulia Daripada Koruptor

 Korupsi dan koruptor, dua istilah yang selalu menghantui rakyat indonesia dari dulu hingga sekarang. Para pejabat mengambil uang rakyat dengan se enaknya tanpa memikirkan penderitaan rakyat, seakan-akan mereka hidup sendiri di dunia ini. Apakah mereka tidak menyadari berapa juta  rakyat kelaparan, berapa juta anak putus sekolah, berapa juta anak menderita kurang gizi,dan berapa juta orang lebih memilih menjadi pengemis karenanya.

Apkah itu merupakan adzab yang telah Allah turunkan dikarenakan kebanyakan dari kita lalai untuk manjalankan syari’at-Nya dan juga lalai untuk saling mengingatkan untuk berpegang teguh pada jalan-Nya sebagaimana hadist Rasulullah saw:

“Tidaklah dari satu kaum berbuat maksiat, dan diantara mereka ada orang yang mampu utuk melawannya, akan tetapi dia tidak berbuat itu, melaikan hampir-hampir Allah meratakan mereka dengan azab dari sisi-Nya.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

“Sesungguhnya manusia, jika mereka melihat kemungkaran, sedangkan mereka tidak mengubahnya, maka datanglah saatnya Allah menjatuhkan siksa-Nya secara umum.” (HR Abu Dawud)

Itulah Janji Allah SWT jika kita enggan untuk saling mengingatkan kepada jalan-Nya yaitu jalan Syiratul Mustaqim.

Kita kembali lagi pada topik sebelumnya yaitu koruptor. Jika koruptor suka memakan uang rakyat dan ulat suka memakan daun tanaman rakyat, maka apakah ada perbedaan antara koruptor dan ulat daun ?

Meskipun kedua-duanya sama-sama suka memakan milik rakyat yang satu uang dan yang satunya lagi daun, namun keduanya jauh berbeda. Coba kita renungi, akankah ulat itu seumur hidupanya akan memakan daun ? Tentu saja tidak karena ulat di kemudian hari akan mengalami yang namanya metamorfosis dan tubuhnya berubah bentuk menjadi kupu-kupu yang sifatnya bertolak belakang dari bentuk sebelumnya. Ulat yang tadinya suka memakan daun dari tanaman petani yang tentunya sangat merugikan petani, tapi setelah itu berubah bentunya dari sosok yang menjijikkan menjadi sosok yang indah mempesona (kupu-kupu) dan sifatnya yang tadinya merugikan menjadi menguntungkan. Kupu-kupu dikatakan menguntungkan karena telah membantu sebagian besar jenis tanaman dalam menyebarkan serbuk jantan kepada kepala putik atau betinanya sehingga terjadi penyerbukan di dalam kepala putih dan akhirnya mengalami pembuahan.

Adapun ulat tidak serta-merta mengalami perubahan melainkan ulat itu sendiri sebelunnya mengalami proses yang sangat berat baginya, karena ulat harus bersemedi di dalam kepompongnya, tidak makan dan minum sampai akhirnya tiba waktunya untuk menjadi kupu-kupu, dan tentunya dalam kurun waktu yang cukup lama baginya.

Itulah perjuangan ulat untuk mengubah bentuknya yang sebelumnya merugikan menjadi menguntungkan. Akankah koruptor demikian ? Tentu saja tidak, karena jika koruptor demikian yaitu pada akhirnya dapat menguntungkan seperti halnya ulat  maka dia sudah tobat dan jika dia sudah tobat maka bukan koruptor lagi namanya. Oleh karenanya ulat lebih mulia daripada koruptor yang belum tobat tentunya, dan jika koruptor itu bertobat maka dia akan jauh lebih mulia daripada ulat…..Amin.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: