Beranda > Motivasi > Berfikir Untuk Orang Lain

Berfikir Untuk Orang Lain

 Suatu ketika ada seorang ibu berusaha menyelamatkan anaknya yang masih balita dari cengkaraman api yang membakar rumahnya. Seorang ibu tersebut berlari sambil menggendong anaknya dan mencoba menembus api yang hampir memenuhi seluruh ruangan rumahnya, dan beberapa kali ibu itu kejatuhan kayu-kayu atap rumah yang runtuh akibat terbakar oleh api sehingga mengakibatkan banyak luka bakar dan memar di sekujur tubuhnya yang hampir-hampir membuatnya tak berdaya, tapi ibu itu terus berusaha menyelamatkan anaknya sambil menuju pintu keluar. Dan pada akhirnya ibu itu pun berhasil membawa anaknya keluar dari rumahnya yang terbakar oleh si jago merah, dan sesampainya di halaman rumah yang sudah dipenuhi oleh orang kampung, ibu itu menyerahkan anaknya untuk digendong oleh orang lain yaitu tetangganya sendiri. Anehnya setelah anaknya itu dia serahkan kepada tetangganya dan dia memperhatikan dirinya yang penuh dengan luka bakar dan memar, seketika itu juga dia langsung lemas tak berdaya dan akhirnya pingsan.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari sini adalahmengapa ibu itu seakan-akan tidak merasakan luka bakar dan memar yang hampir memenuhi tubuhnya disaat dia berlari keluar rumah dengan menggendong anaknya untuk menyelamatkannya dari kobaran api, tapi malahan ketika dia menyerahkan anaknya untuk digendong oleh orang lain dan memerhatikan dirinya yang penuh dengan luka, barulah dia merasa kesakitan hingga pingsan ?

Karena ketika pikiran kita tertuju pada orang lain maka kita akan lupa akan keadaan diri kita sendiri hingga kita memikirkan diri kita kembali, itulah yang terjadi pada seorang ibu yang berusaha menyelamatkan anaknya tadi. Maka apabila kita hendak menolong orang lain maka pikiran kita harus tertuju pada orang yang akan kita tolong tersebut tanpa memikirkan diri kita sendiri seperti dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dam Muslim—semoga Allah meridhai keduanya—dari Abu Hamzah Anas bin Malik r.a., pelayan Rasulullah saw., ia bersabda bahwa Nabi saw. bersabda,

“Tidak (sempurna) beriman seseorang di antara kamu sehingga ia menyukai untuk saudaranya apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri.”

Kata “tidak beriman” dalam hadist ini dimaksudkan untuk meniadakan iman yang sempurna dari orang yang tidak menyukai untuk saudaranya apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri. Menyukai untuk saudaranya ialah menginginkan kebaikan dan kemaslahatan untuk saudaranya. Lalu “menyukai” yang dimaksud ialah “menyukai” atas dasar ad-Din (agama), bukan oleh sebab kecendrungan manusiawi. Karena, perangai manusia terkadang tidak menyukai orang lain memperoleh suatu kebaikan atau suatu yang istimewa dari dia. Maka, di sini manusia dituntut untuk melawan perangai buruknya, bahkan wajib mendoakan saudaranya serta berharap untuk saudaranya kebaikan-kebaikan yang diinginkan untuk dirinya sendiri.

Dan itu semua tidak akan tercapai jika kita masih memikirkan diri kita sendiri (egois). Apalagi jika kita hendak menolong seseorang yang dalam kesusahan kemudian kita memikirkan keadaan kita sendiri pada waktu itu, maka yang terjadi adalah kita tidak bisa mengeluarkan kemampuan kita seluruhnya untuk menolong orang tersebut atau bahkan tidak bisa sama sekali. Contohnya, ketika kita hendak bersedekah pada orang fakir miskin atau pengemis yang kita jumpai di pinggir jalan, kemudian kita melihat isi dompet kita ada uang seratus ribu pas. Seandainya kita tidak berfikir lebih tentang uang itu maka bisa jadi kita akan mensodaqohkan uang tersebut seutuhnya, tapi jika kita berfikiran : “uang ini kan hendak kubelikan kaos bola, berarti kusedekahkan lima puluh ribu aja lah. Tapi kan aku juga butuh beli peralatan mandi, berarti dua puluh ribu aja lah. Tapi aku juga laper ni…..butuh makan, ya udah lain kali aja sedekahnya.” Nah pada akhirnya kita tidak jadi untuk bersedekah jika tetap memikirkan diri sendiri.

Jika kita beranggapan kalo kita masih belum kaya, lalu kita akan bersedekah jika kita kaya nanti, maka pada akhirnya kita tidak pernah akan merasa kaya. Karena memang sudah menjadi watak manusia yang tidak pernah akan puas kecuali orang-orang yang bersyukur. Kalo kita baru akan bersedekah ketika kita sudah kaya, maka kapan kita bisa dikatakan kaya. Seorang guru yang mempunyai sepeda montor bagus pun masih belum dinilai kaya oleh seorang kepala sekolah yang mempunyai sedan, dan seorang kepala sekolah tersebut pun masih belum dinilai kaya oleh seorang dosen yang mempunyai depot makan dan beberapa mobil, dan dosen tersebut pun masih belum dinilai kaya oleh seorang bupati yang memiliki restoran dan bus pariwisata, dan bupati pun masih dinilai belum kaya oleh gubernur suatu provinsi dengan segala hartanya, dan begitu seterusnya.

Sebenarnya kaya itu merupakan mental yang bisa dimiliki oleh semua orang baik itu kaya maupun miskin. Lalu kapan seseorang dapat menilai kalau dirinya itu kaya ? jawabannya adalah ketika seseorang tersebut timbul perasaan dalam dirinya yang menganggap kalau dirinya itu sudah berkecukupan atau kaya dan perasaan itulah yang disebut dengan mental kaya.

Ada sedikit cerita: “Pada suatu ketika ada seorang penjual roti di Korea, kemudian datang seorang pembeli yang kebetulah dia adalah seorang turis asal australia dan penjual roti itu pun memberikan sebungkus roti dengan gratis, dan keesokan harinya orang Australia itu datang kembali membawa kain wol untuk diberikan kepada si penjual roti. Pada hari berikutnya datang seorang pembeli yang kebetulan dia seorang turis asal jepang dan lagi-lagi penjual roti itu pun memberikan sebungkus rotinya dengan gratis, dan keesokan harinya orang jepang itu datang kembali dengan membawa kimono untuk diberikan kepada si penjual roti. Pada hari berikutnya datang seorang pembeli yang berkebangsaan Indonesia dan lagi-lagi penjual roti itu pun memberikan sebungkus rotinya dengan gratis, dan kira-kira apa yang akan terjadi dikeesokan harinya ? ternyata orang Indonesia tersebut malah membawa teman-temanya supaya dapat roti gratisan semua….he he.” Nah cerita tadi tidak lain dikarenakan penjual roti tersebut memiliki mental kaya meskipun dia seorang penjual roti, tapi lain halnya dengan orang Indonesia yang tidak memiliki mental kaya meskipun dia kaya, buktinya dia bisa sampai ke Korea…..he he.

Maka sesungguhnya mental kaya itu lebih penting daripada kaya itu sendiri. Dan pertanyaannya “ apakah anda sudah memiliki mental kaya tersebut ?” Tanyakan pada diri anda sendiri. Jika anda belum memiliki mental kaya tersebut pada diri anda, maka anda sama halnya dengan orang Indonesia dalam cerita tadi. Usikum Wa Iyaya Nafsi Bitaqwallahi……

Kategori:Motivasi
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: